Selasa, 14 Mei 2013

Kekasih

Hai apa kabar kekasih? Aku hanya bisa mengucapkan: selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam dan selamat tidur. Ucapan itu berulang dengan nada yang sama. Apakah kau juga memikirkanku untuk hari ini? Bagaimana aku memulai hari, kabarku, pakaian apa yang tengah aku kenakan, raut wajahku, ataukah aku terlihat cantik hari itu, dan atau aku malah terlihat jelek dan kau mulai menggodai saat aku manyun dengan gaya bibir khasku. Oh kasih, meskipun saat ini rasa itu jauh berbeda. Tahukah kamu, aku yakin kita tetap merasakan rasa yang sama. Mungkin lebih baik seperti ini? Mungkin kita sibuk dan lelah dalam damai.
***
Kini aku berjalan sendirian. Sepatu, arloji, kuncir rambut, tas, pakaian yang melekat dalam tubuh ini. Mereka bilang kepadaku, mereka bilang rindu. Yah, rindu terhadapmu kasih. Mereka rindu sosokmu, saat kau dengan semangat dan kasih sayangmu selama menemuiku. Sepatu ini rindu untuk berlari secepat mungkin untuk tepat waktu menemuimu di gang kecil itu. Gang tikus saksi kesetiaanmu saat menungguku. Arloji ini rindu untuk mendentangkan waktu untuk secepat mungkin menangkap hadirmu. Kuncir rambut ini rindu untuk kau main-mainkan dengan helai lembut rambutku. Tas ini rindu untuk dijadikan tempat beberapa barang penting yang kau bawa dan pakaian ini rindu saat dimana ia melekat dengan kulitmu dan mendekapmu. Oh kasih, mereka saja rindu, apalagi aku?
***

Senin, 13 Mei 2013

Percayalah Kasih

Saat orang lain bahkan tidak mempercayaimu, aku masih mempercayaimu. Tapi kenapa kau begitu angkuh? Dan dengan mudahnya kau anggap aku hanya angin lalu.

Senin, 06 Mei 2013

Aku bukan pecundang sepertimu!

Tak pernah berhenti berjuang, meskipun cobaan bertubi-tubi menerjang. Ombak akan aku kalahkan, duri tajam akan aku pijak, panas api akan aku genggam, cacing yang menjijikkan bahkan akan aku makan, derasnya hujan akan ku lawan, menghadapkan wajah menatap langit tajam. Aku berteriak lantang dan bicara kepada alam dan semua manusia. Aku tidak takut! Aku tidak takut! Aku sudah menerima luka bahkan jauh melebihi ini, Tuhanku ada disisiku. Meski terkadang aku seenaknya datang dan pergi.
Aku bukan pecundang sepertimu!

Rabu, 01 Mei 2013

Rabu, 17 April 2013

Satu Garis Terhapus


Aku akan selalu mengingat pesan dan nasihatmu cinta. Semoga sedikit demi sedikit aku bisa mewujudkannya. Mungkin kamu lebih bisa bahagia dengan dia. Aku berdoa yang terbaik untuk kalian. Alangkah indah hubungan kita ketika tak ada dendam dan saling menerima. Aku! Kamu! Dia! Cinta segitiga itu ibaratkan garis+garis+garis. Kau hanya butuh menghapus salah satu diantaranya dan jahat itu memang sederhana. Tahukah kamu, akhir cerita segitiga itu? Satu garis terhapus dan itu aku.

***

Sahabat, kenapa hidup ini begitu rapuh untukku? Doakan aku agar tetap tegar. Yah tegar.

Tulus Mencinta

Aku tulus mencintaimu, tapi kini semua sudah berubah. Aku hanya bisa menyayangimu dalam tautan doa. Aku tak tahu, masihkah kau percaya pada Tuhan. Kamu bukan dulu yang aku kenal. Aku tak tahu mengapa? Terima kasih sudah mengajariku untuk bersabar. Mengajariku menahan amarah, hingga aku mampu walaupun sedikit, tak membalas yang kasar dengan sama kasarnya. Mungkin cinta ini buta, yah cinta buta terhadapmu. Tak mampu mensinkronasi pikiran, hati dan lisan serta tata laku. Kini hati mungkin sudah mati rasa. Mati oleh sembilu luka. Pedih. Aku tak mampu memberimu apapun, entahlah harta? Paras cantik? Atau apalah yang kamu kehendaki. Maafkan aku.

Tuhanku, kesepian?


Tuhan, Tuhan
Dimanakah Engkau, disaat aku terlalai terhadapMu?
Tidakkah kau menyayangiku?
Tuhan
Jangan biarkan aku meragukanMu
Aku telah jatuh terlalu dalam
Karena semua hal yang berasal dariMu
Mungkin aku terkutuk
Kau ciptakan alam semesta ini, hingga tiba saatnya kau sebut kiamat
Lalu untuk apa?
Menguji atau kekuasaan
Apakah kau kesepian Tuhan?

#Tuhanku bukan Tuhan, Tuhanku Allah. Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Amin